Kita perlu bicara. Berdua, aku dan kamu.

Sebelum bercengkrama dalam oborolan yang mungkin menguras seluruh energi dan air mata. Aku ingin kamu jujur akan satu hal.

Bagaimana keadaan perasaan yang lama kamu abaikan?

30 tahun bukanlah angka yang sedikit. Dewasa seharusnya sudah membersamai sejak lama. Pola pikir dan sudut pandang, aku yakin kamu cukup baik. Namun, apakah rasa syukur akan hal-hal kecil itu masih ada?

Perjalanan membawa kamu sejauh ini. Berkeliling di negara Eropa. Jujur, mimpi itu tak pernah ada dalam angan gadis 22 tahun kala itu. Kamu, hanya terobsesi dengan Jepang. Semesta pun mengwujudkannya.

Aku tak dapat menemukan gadis itu dalam diri kamu lagi. Kamu, tak harus memahami ribuan perasaan yang bertengkar dalam diri.

Fokus. Kerjakan apa yang ada di depan diri. Kamu sedang menjalani apa yang pernah kamu usahakan. Tuhan tidak memberi begitu saja, Tuhan melihat usaha dan keyakinan yang kamu miliki.

Tolong, percayalah akan kuasa-Nya. Hal-hal yang kamu anggap mustahil itu akan terwujud jika kamu juga terus berusaha.

Aku merindukan gadis yang tak pernah membantahku dan justru semakin termotivasi mendengarku. Manusia di hadapanku saat ini, punya ribuan jawaban dari buku-buku yang dibaca. Hei, kembali saja ke bacaan novel itu jika kamu menjadikan apa yang tertulis sebagai parameter kamu dalam bertindak dan validasi.

Hei. Aku ingin kamu hanya fokus dengan hal-hal nyata di hadapanmu saat ini. Seperti, pertemuan esok hari dengan professor, persiapannya belum terlalu matang bukan?

Jangan terlalu mengecek dan terpusat dengan hal-hal yang ada di internet. Jangan melihat kehidupan lain, jika kamu tidak bisa menjadikannya sebuah sumber energi positif. Beri jarak, lepaskan diri dari pengaruh yang semakin membuatmu merasa amat tertinggal.

Aku tau, ada seseorang yang menyatakan menyukaimu. Dan, kamu sudah tahu jawabannya bukan? Kamu melihatnya sebagai teman. Jadi, berhenti memastikan dan ingin dia berlaku seolah-olah kamu pusat dunia. Maaf, aku harus mengatakan ini. Dia memiliki dunia dan tujuan sendiri. Bukankah kamu paling sok tahu, bahwa manusia pada akhirnya hanya memiliki diri sendiri?

Saat ini kamu harusnya belajar, bukan? Aku biarkan obrolan ini terjadi untuk menyadarkan kamu kembali, bahwa hal-hal yang sudah dimulai harus diselesaikan dengan baik.

Kamu di sini, terlepas apapun yang sedang kamu hadapi. Bukankah, rasa syukur itu yang harus dipanjatkan pertama?

Banyak bersyukur, menangis secukupnya.

Aku tak pernah meminta kamu untuk bersikap kuat dan selalu tersenyum. Meanangis jika kamu ingin, istirahat jika kamu lelah, segala sesuatu itu perlu penyeimbang. Aku hanya ingin, kamu tetap fokus. Jika sudah usai bergelut dengan peliknya diri–hanya aku yang memahami kamu, haha– kembali mengerjakan apa yang harus dikerjakan.

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka sendiri berusaha. Maka, Allah akan mudahkan dan berikan lebih dari yang diinginkan.

By, kamu punya aku dan kita satu. Saling memahami dan menenangkan, memberi validasi dalam diam. Kita adalah peluk yan dibutuhkan satu sama lain, saat dunia kacau. Kamu tak pernah sendiri, kamu memiliki aku–jiwamu.

0 Komentar